Kenangan Stasiun NGANJUK


Nganjuk punya wajah kereta yang ramah sejarah: Stasiun Nganjuk (kode NJ) berdiri sejak masa kolonial dan kini berstatus stasiun kelas I yang menjadi pintu utama kota—bangunannya masih membawa nuansa lawas yang nyaman untuk penumpang lokal maupun pelintas jarak jauh. Di samping itu wilayah Kabupaten Nganjuk juga dilintasi Stasiun Kertosono (KTS) yang berfungsi sebagai hub penting dan sering dipakai persinggahan atau pembalikan arah beberapa kereta, plus stasiun-stasiun lebih kecil yang melengkapi jaringan rel di sana. 

Meski jumlah stasiun relatif sedikit, Nganjuk memiliki variasi fungsional: selain Nganjuk dan Kertosono, ada pula Stasiun Baron, Stasiun Bagor, dan Stasiun Wilangan — yang terakhir kini sudah non-aktif untuk melayani naik-turun penumpang sejak beberapa tahun belakangan setelah penataan jalur ganda pada koridor itu. Beberapa dari stasiun kecil lebih berperan sebagai titik persilangan atau pekerjaan sinyal daripada layanan penumpang harian, sehingga walau ada namanya masih tidak selalu berarti ada boarding tiket di tiap pemberhentian. 

Untuk layanan kereta, salah satu yang relevan adalah KA Dhoho (sering disebut Rapih/Commuter Line Dhoho pada perubahan nama/rangkaian layanan), yang melayani koridor Blitar–Kertosono–Surabaya dan melewati wilayah Nganjuk/Kertosono sehingga menjadi opsi lokal ekonomi penting untuk rute-rute antar kota di Jawa Timur. Bagi penumpang Nganjuk, pilihan kereta lintas jauh (eksekutif/bisnis/ekonomi) tetap banyak singgah di Stasiun Nganjuk, sedangkan Kertosono jadi alternatif saat butuh hubungan ke arah Blitar/Surabaya lewat Dhoho. 


#StasiunNganjuk #Nganjuk #StasiunKertosono #Kertosono #StasiunBaron #StasiunBagor #StasiunWilangan #Wilangan #KA_Dhoho #Dhoho #KeretaApi #Daop7Madiun #SejarahKereta #RelJawa #KeretaEkonomi #KeretaBisnis #KeretaEksekutif #JalurGanda #TransportasiJawaTimur #WisataRel #BangunanKolonial #StasiunKuno #JalurSelatan #Perkeretaapian #InfoStasiun


Komentar