Jalur kereta di Garut dibangun oleh SS (Staatsspoorwegen) dan resmi beroperasi tahun 1899, menghubungkan Cibatu–Wanaraja–Garut sebagai jalur cabang dari lintas Bandung–Kroya. Stasiun utamanya adalah Stasiun Garut, yang dulu menjadi pusat kegiatan angkutan hasil perkebunan seperti kopi, teh, dan kina. Setelah mengalami penutupan pada tahun 1983 akibat penurunan penumpang dan kompetisi kendaraan darat, Stasiun Garut akhirnya direaktivasi dan kembali beroperasi tahun 2022 sebagai wajah baru transportasi kereta di Priangan Timur.
Selain Stasiun Garut, terdapat beberapa stasiun lain di jalur ini, yaitu Stasiun Wanaraja, Stasiun Pasirjengkol, dan Stasiun Cibatu (yang berada di perbatasan Garut–Sumedang namun menjadi simpul penting jalur Garut). Stasiun-stasiun yang kini berstatus nonaktif meliputi Stasiun Wanaraja dan Stasiun Pasirjengkol, yang dulunya berfungsi sebagai tempat persilangan serta pengangkutan hasil bumi dari desa-desa sekitarnya. Cibatu tetap aktif sebagai stasiun besar yang menghubungkan layanan menuju Garut.
Selain itu, masih ada titik kecil seperti Halte Cioyod, Halte Cimurah, dan beberapa petak persilangan lama yang sudah hilang. Meskipun tidak semuanya hidup kembali, jalur ini tetap menyimpan nilai sejarah penting bagi perkembangan Garut. Dengan reaktivasi sebagian lintas, harapan pengembangan mobilitas dan ekonomi masyarakat Garut kini kembali terbuka.
#KeretaApi #StasiunGarut #SejarahGarut #ReaktivasiGarut #CibatuGarut #Wanaraja #Pasirjengkol #StasiunNonaktif #JalurGarut #PrianganTimur #Staatsspoorwegen #SejarahKA #TransportasiGarut #KAIndonesia #HeritageKA #StasiunTua #RelLama #GarutBangkit #ReaktivasiJalur #Infrastruktur #JalurCibatuGarut #KeretaJawaBarat #WisataKeretaApi #StasiunBersejarah #InfoPerkeretaapian
Komentar
Posting Komentar