Kenangan Stasiun ACEH

Jalur kereta api di Aceh memiliki sejarah panjang sejak era kolonial melalui Atjeh Tram yang mulai dibangun pada akhir abad ke-19 untuk kepentingan logistik militer. Jalur ini menghubungkan berbagai titik penting seperti Stasiun Ulee Lheue, Stasiun Kutaraja (Banda Aceh), Stasiun Lamnyong, serta menerobos pedalaman hingga ke Stasiun Sigli, Stasiun Bireuen, Stasiun Lhokseumawe, Stasiun Lhoksukon, dan Stasiun Langsa. Banyak stasiun tua ini kemudian berhenti beroperasi pasca 1970-an akibat kerusakan jaringan dan perubahan kebijakan transportasi.

Memasuki era modern, Aceh kembali menghidupkan semangat perkeretaapian melalui pembangunan jaringan KA Trans-Sumatera. Proyek ini memulai tahap awal pada segmen Krueng Geukuh–Kutablang dengan mengaktifkan kembali beberapa titik seperti Stasiun Krueng Mane, Stasiun Buket Rata, dan Stasiun Geurugok, meskipun masih terbatas untuk angkutan barang. Sementara itu, stasiun-stasiun lama seperti Stasiun Punteut, Stasiun Keutapang, dan Stasiun Samalanga tetap masuk kategori nonaktif namun menjadi bagian penting dalam dokumentasi sejarah.

Ke depan, pembangunan diproyeksikan menyambungkan kembali lintasan hingga Banda Aceh dan selatan menuju Aceh Tamiang—yang di masa lalu memiliki stasiun-stasiun seperti Stasiun Tanjung Pura, Stasiun Seulimeum, dan Stasiun Peureulak. Meskipun banyak bangunan lama tidak tersisa, jejak jalurnya tetap menjadi warisan berharga yang menandai perjalanan transportasi Aceh dari masa kolonial hingga era modern.

#AtjehTram #KeretaApiAceh #StasiunUleeLheue #StasiunKutaraja #StasiunLamnyong #StasiunSigli #StasiunBireuen #StasiunLhokseumawe #StasiunLhoksukon #StasiunLangsa #StasiunPunteut #StasiunKeutapang #StasiunSamalanga #StasiunPeureulak #StasiunSeulimeum #StasiunKruengMane #StasiunBuketRata #StasiunGeurugok #KAtransSumatera #SejarahKeretaAceh #TransportasiAceh #StasiunNonAktifAceh #RelAceh #SejarahNusantara #JejakKolonial


Komentar