Kenangan Stasiun LAMPUNG



STASIUN LAMPUNG – JEJAK REL DI TANAH SAGHATA BALAK

Jaringan perkeretaapian di Lampung memiliki akar sejarah panjang yang bermula pada masa kolonial, ketika pemerintah Hindia Belanda melalui Staats Spoorwegen (SS) mulai membangun jalur strategis dari pesisir Teluk Lampung menuju wilayah pedalaman. Pembangunan ini bertujuan menghubungkan pelabuhan penting dengan pusat perkebunan terutama kopi, lada, dan karet. Dari sinilah lahir stasiun-stasiun yang kini menjadi denyut nadi pergerakan masyarakat Lampung.

Stasiun Tanjungkarang

Diresmikan pada era kolonial, kini menjadi stasiun terbesar dan paling sibuk di Lampung. Terletak di Bandar Lampung, stasiun ini menjadi pusat pengoperasian kereta ekonomi seperti Kuala Stabas, Rajabasa, dan Sriwijaya. Dulunya bernama Stasiun Telukbetung sebelum dipindahkan ke lokasi sekarang akibat perluasan kota.

Stasiun Gedongtataan

Terletak di Pesawaran dan menjadi titik penting penghubung antara Bandar Lampung dan wilayah selatan. Stasiun ini dahulu merupakan titik persinggahan kereta barang dari perkebunan kolonial sekitar daerah Gedong Tataan.

Stasiun Pringsewu

Stasiun aktif yang melayani jalur tengah Lampung. Meskipun tidak sebesar Tanjungkarang, Pringsewu punya sejarah sebagai simpul pengangkutan hasil bumi pada masa penjajahan.

Stasiun Gading

Stasiun kecil di wilayah Pringsewu, dahulu ramai oleh angkutan hasil perkebunan. Kini masih berfungsi sebagai titik persilangan kereta.

Stasiun Blambangan Umpu

Stasiun besar di Kabupaten Way Kanan, dulu menjadi pusat logistik kawasan hutan dan pertanian. Kini menjadi pemberhentian kereta jarak menengah antarwilayah.

Stasiun Baradatu

Salah satu stasiun historis di Way Kanan yang masih aktif melayani kereta penumpang lokal. Pada masa kolonial, jalur ini digunakan membawa komoditas keras seperti kopi dan lada.

Stasiun Kotabumi

Terletak di Lampung Utara. Stasiun ini adalah salah satu simpul jalur utara Lampung dan menjadi titik transit menuju jalur Sumatera bagian tengah kelak bila jaringan diperluas. Dulunya ramai karena angkutan tebu dan karet.

Stasiun Tandjung Ratu

Stasiun tua dengan bangunan khas kolonial. Kini masih digunakan namun aktivitasnya tidak seramai era sebelumnya.

Stasiun Kalibalangan

Stasiun kecil yang berperan sebagai titik pemberhentian kereta lokal. Pada masa kolonial, kawasan ini banyak ditanami karet sehingga jalur ini cukup vital.

Stasiun Negeri Agung

Stasiun aktif yang berada di jalur tengah Way Kanan. Dulu menjadi titik kontrol perjalanan kereta barang.

Stasiun Waytuba

Stasiun ini dulunya cukup sibuk mengangkut hasil hutan dari pedalaman. Kini hanya melayani kereta tertentu dan kadang berfungsi sebagai titik persilangan.

Stasiun Rejosari

Stasiun kecil namun historis, menjadi saksi perjalanan jalur kereta Sumatra bagian selatan.

Stasiun Martapura (Lampung) / Nonaktif

Salah satu stasiun lama yang sudah tidak aktif. Dulu menjadi jalur ekspor komoditas kolonial ke pelabuhan.

Stasiun Bandarjaya (Nonaktif)

Terletak di Lampung Tengah, dulunya menjadi simpul ekonomi lokal. Kini bangunan lamanya menyisakan jejak arsitektur kolonial.

Stasiun Terbanggi Besar (Nonaktif)

Saat masa jayanya, stasiun ini melayani barang perkebunan dari kampung sekitar. Kini tinggal sebagai jejak jalur lama.


DAFTAR STASIUN AKTIF LAMPUNG

  • Tanjungkarang
  • Rejosari
  • Gedongtataan
  • Gading
  • Pringsewu
  • Sukadana
  • Kotabumi
  • Tanjung Ratu
  • Kalibalangan
  • Blambangan Umpu
  • Baradatu
  • Negeri Agung
  • Way Tuba

STASIUN NON AKTIF

  • Bandarjaya
  • Terbanggi Besar
  • Martapura (Lampung)

Rel kereta di Lampung adalah lorong waktu, menghubungkan masa lalu kolonial dengan pergerakan modern masyarakat hari ini. Setiap stasiun menyimpan kisah: dari lumbung lada, kebun karet, hingga geliat urban kota Bandar Lampung yang terus tumbuh.

#StasiunLampung #KeretaLampung #Tanjungkarang #Kotabumi #WayKanan #Pringsewu #BlambanganUmpu #Baradatu #GedongTataan #Kalibalangan #NegeriAgung #WayTuba #Rejosari #Gading #SejarahKereta #RelSumatera #StasiunNonAktif #Bandarjaya #TerbanggiBesar #MartapuraLampung #JalurKeretaSumatera #TransportasiLampung #WarisanKolonial #KAI #RelIndonesia





Komentar